Beritanews 9.id || Banten – Operasi kodok yang disinyalir Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, semakin nyata dan jelas kini sedang menyasar aktivis mahasiswa — yang relatif menjadi motor penggerak utama perlawanan rakyat — setelah kaum buruh tidak lagi dominan berperan seperti reformasi 1998, yang dimotori oleh serikat buruh militan SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) yang sangat fenomenal semasa rezim Orde Baru.
Kekecewaan sebagian besar mahasiswa terhadap aktivis mahasiswa Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Jember yang ikut kunjungan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, disikapi dengan aksi dan unjuk rasa. Azza Febra Pramudika, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa. (BEM) Unsoed, mengatakan mahasiswa yang ikut dalam kunjungan Wakil Presiden itu tidak merepresentasikan sikap mahasiswa Unsoed. Untuk itu, mahasiswa Unsoed mendesak pihak rektorat untuk dilibatkan dalam mengambil keputusan yang dapat mencederai nama baik mahasiswa maupun perguruan tinggi, sebagai benteng pertahanan dan penjaga moralitas serta etika kaum intelektualitas bagi masyarakat.
Jadi memang fenomena operasi kodok sungguh sedang diamainkan, seperti yang juga ditandai oleh BEM Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta yang heboh dan viral karena mendapat duit sogokan agar tidak aksi dan unjuk rasa di Istana dengan arahan agar mahasiswa aksi dan unjuk rasa di DPR RI. Padahal, intinya dari aksi dan ujuk rasa yang dilakukan tidak hanya oleh mahasiswa itu — lantaran DPR RI maupun DPR Daerah tidak menyuarakan jerit hati penderitaan rakyat seperti yang dominan diwakili oleh mahasiswa Indonesia di pusat maupun di daerah sebagai penjaga sekaligus tanggung jawab sosial serta moral sebagai warga bangsa Indonesia yang tak Ok ngin negeri ini runtuh atau ambruk.
Fenomena operasi kodok yang sedang dimainkan dalam situasi politik di Indonesia sekarang ini, seperti yang juga ditengarai oleh banyak orang dengan kasus penangkapan Roy Suryo dan Tifauziah yang sepatutnya tidak perlu terjadi dan menambah kegaduhan, seakan ingin memecah gelombang aksi dan unjuk rasa seperti yang acap disebut dengan istilah tes ombak. Jadi tak hanya sekedar ingin menakar kekuatan pendukung, tetapi juga semacam pemecah ombak agar tak sampai menjadi badai yang mengancam dan bisa meluluhlantak berbagai hal yang bisa menimbulkan kerugian yang tidak bisa dikendalikan.
Jadi apapun yang terjadi dalam serangkaian peristiwa pada pertengahan bulan Juni 2026 ini, jelas sangat merugikan citra pemerintah — utamanya pihak Kepolisian yang baru saja memperoleh pengesahan UU No. 5 Tahun 2026 tentang Reformasi Polri yang boleh dikata tak banyak mendapat komentar negatif, kendati ada kesan pengabaian terhadap Tim Reformasi Polri yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto. Sementara dalam persiapan aturan turunan dari UU Polri tersebut, sebagai tindak lanjut dari ketentuan yang diamanatkan oleh UU tersebut guna menyamakan pemahaman terkait pelaksanaan tugas dan wewenang yang termuat dalam UU No. 5 Tahun 2026 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dan seluruh langkah yang dilakukan Polri, kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Johnny Edison Isir diorientasikan pada peningkatan kualitas perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sekaligus untuk memperkuat peliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakan hukum.
Namun sayangnya, keinginan untuk mengembalikan citra Polri terkesan gugur akibat penangkapan kedua aktivis yang hendak mengungkap masalah ijazah palsu justru ditangkap, kendati kemudian terus dibebaskan olek pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Demikian juga dengan kasus sogok-menyogok terhadap mahasiswa agar dapat mengalihkan aksi dan unjuk rasa yang dilakukan tidak di Istana Merdeka, tetapi di DPR RI. Anjuran buruk semacam itu, jelas dapat dipahami telah “meracuni” generasi muda yang sulit dimaafkan. Apalagi pernyataan BEM UBK jelas mengakui uang sogok itu berasal dari pihak oknum Kepolisian. Sementara citra Kepolisian Negara Republik Indonesia sedang mulai menarik simpati dan penghormatan dari warga masyarakat, dimana sosok polisi sebelumnya dirasa semacam momok yang menakutkan.
Begitulah kesan dalam geopolitik di dalam negeri yang sedang berkecamuk, semacam ada satu babak dramatik dari operasi kodok yang sedang dipentaskan dengan pemain utama yang diperankan oleh mahasiswa dan aktivis pergerakan.
Banten, 24 Juni 2026












