Jacob Ereste : Silang Saking Sandra Menyandera Akan terus Menghantui Sampai Masuk ke Liang Kubur

Beritanews 9.id || Pecenongan –  Menyandera dan disandera di Indonesia telah melahirkan “anak haram” dalam perselingkuhan politik yang gaduh di Indonesia. Sehingga upaya untuk saling menyandera telah dijadikan kekuatan politik dan sumber ekonomi yang bisa menumpuk dan melanggengkan kekuasaan dalam arti luas, jauh melampaui dugaan yang bisa dikalkulasi lewat manajemen ilmu secanggih apapun yang dapat dilakukan oleh para pakarnya di negeri ini.

 

Nasib yang paling tragis adalah mereka yang tersandera, hingga hingga tidak bisa berkutik kecuali hanya bisa menghamba dan mengemis bekas kasihan, seperti Si Lebai Malang. Istilah untuk mereka yang tersandera tak bisa berkutik ini, ibaratnya “maju kena, mundur juga kena” hingga posisinya bisa jadi bukan-bulanan pemerasan, tak hanya dalam arti ekonomi, karena yang lebih parah nasibnya hanya bisa sendiko dawuh. Menuruti kehendak sang penyandera jadi kerbau yang dicocok hidungnya. Untuk menghadapi kondisi yang malang ini memang harus menghadapi dilema memilih seperti harus menentukan : *Bapak mati, atau Ibu yang mati”, inilah yang disebut banyak orang akibat dari memakan buah simalakama.

 

Tapi, realitas yang harus dihadapi dari konsekuensi memakan buah simalakama ini harus dihadapi secara gentle dengan melakukan perlawanan total, atau menyerah kalah secara bongko’an tanpa syarat. Bisa saja pasrah memilih mengikuti arus ke mana arah air bah yang akan menghanyutkan, yang penting toh, bisa tetap selamat, seperti ketika tambeng untuk melakukan kejahatan yang telah merugikan banyak orang.

 

Dalam kondisi tersandra inilah, orang baru bisa memahami betapa indahnya suasana kebebasan dan kemerdekaan yang mampu dikendalikan karena memahami adanya konsekuensi logis dari perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akherat. Karena tanggung jawab itu tak hanya dihadapan hukum positif (negara) tapi juga hukum Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.

 

Jadi masalah silang saling Sandra menyandera ini pun bisa terjadi timbal balik — sama-sama tersandera dan menyandera. Ketika posisinya demikian adanya, pilihan terbaik — jika masih bisa menahan ego — kedua pihak bisa melakukan kerja sama, saling melindungi atau bahkan saling menetas, maka itu berbagai upaya mencari titik temu dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, mulai dari kesepakatan untuk saling melindungi, hingga kemungkinan melakukan kolaborasi semacam asosiasi kecil untuk sesuatu hal yang besar, karena menyangkut masa depan yang bisa ambruk bersama seluruh dinasti yang sudah dibangun dengan susah payah. Karena itu, perang tanding pun — semacam kondisi Perang di Padang Kurusetra — seperti yang bisa disaksikan terjadi di negeri kita hari ini.

 

Esensinya, perang antara perang antara Pendawa vs Kurawa simbolika dari kebenaran dan kebatilan. Terbunuhnya Duryudana dan Dursasana, sebagai simbolik dari kejahatan.

 

Sebab mitos yang ada dan hidup dalam keluarga Kurawa, ego, serakah dan iri dengki. Seperti Karna, anaknya Kanti, kakaknya Pandawa yang seria kepada Duryudana, salah memilih dengan berkubu pada Kurawa berhutang budi dan menjadi loyalis yang buta hatinya. Begitu juga Bhisma dan Drona yang terbilang tua, tapi mingkem tidak bersuara seperti penikmat media sosial yang tak berbicara dan tidak juga bereaksi memberikan komentar. Tentu saja ada andilnya Sengkuni yang licik dan culas, manipulatif serta mempraktekkan politik kotor yang suka kasak-kusuk merusak martabat Pandawa maupun Kurawa.

 

Ketika kezaliman dan ketidakadilan terjadi, perang harus terjadi — dan terpaksa akan dilakoni dengan semangat rawe-rawe rantas tanpa rasa bimbang dan ragu seperti saat melakukan korupsi atau pengkhianatan terhadap amanah rakyat hanya untuk kepentingan serta keuntungan diri sendiri

 

Karena itu, kedua pihak yang saling menyandera dan yang disandera kelak kapan pun harus mempertanggungjawabkan atas segala perbuatannya yang dilakukan kepada Tuhan, karena akibat dari perbuatan semua pihak yang menyandera serta bagi mereka yang disandera, karena menyimpan dosa dari perbuatan dari perilaku kejahatan masa lalunya yang kini akan terus menghantui dirinya sampai masuk ke liang kubur.

Pecenongan, 13 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *