Beritanews9.id || SURABAYA — Duka dan keprihatinan atas bencana gempa bumi yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir dari berbagai kalangan. Di tengah kondisi masyarakat yang masih menghadapi ketakutan akibat gempa susulan, Paus Leo XIV menyampaikan kedekatan dan solidaritas spiritual kepada para korban, sementara Kepala SMA Katolik Frateran Surabaya, Fr. William Satel Sura BHK, S.Pd., M.M., turut menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut.
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, korban luka, kerusakan rumah serta berbagai fasilitas publik.
Setelah gempa utama, aktivitas kegempaan masih terus berlangsung dalam bentuk gempa-gempa susulan.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Rabu (19/8/2026) pukul 06.00 WITA tercatat 2.768 gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sementara aktivitas kegempaan masih dinilai fluktuatif.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti informasi resmi.
Situasi tersebut menambah keprihatinan karena masyarakat Flores masih berada dalam masa pemulihan.
Sejumlah warga harus bertahan di tempat-tempat pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan dan kondisi lingkungan belum sepenuhnya aman untuk kembali beraktivitas seperti biasa.
Keprihatinan terhadap kondisi masyarakat Flores juga disampaikan Paus Leo XIV. Melalui telegram yang ditujukan kepada Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Paus menyampaikan solidaritas dan kedekatan spiritual kepada masyarakat yang terdampak bencana, terutama mereka yang kehilangan anggota keluarga, mengalami luka maupun harus mengungsi.
Paus Leo XIV juga mendoakan para korban meninggal dunia serta memberikan dukungan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan, bantuan kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tragedi kemanusiaan akibat bencana tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di Flores, tetapi juga menggugah solidaritas masyarakat luas, termasuk komunitas pendidikan dan keagamaan.
Kepala SMA Katolik Frateran Surabaya, Fr. William Satel Sura BHK, S.Pd., M.M., turut menyampaikan duka mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Flores dan wilayah NTT.
Menurutnya, bencana alam yang terjadi merupakan sebuah peristiwa yang membawa kesedihan bagi banyak keluarga. Karena itu, kepedulian dan solidaritas harus terus dibangun, terutama kepada masyarakat yang kehilangan keluarga, tempat tinggal maupun sumber penghidupan.
Fr. William menyampaikan bahwa dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak boleh membiarkan para korban menghadapi penderitaan seorang diri. Dukungan moral, doa dan kepedulian menjadi bagian penting untuk membantu mereka melewati masa sulit.
Ia juga mengajak keluarga besar SMA Katolik Frateran Surabaya untuk menjadikan musibah tersebut sebagai momentum memperkuat rasa kemanusiaan, kepedulian sosial dan semangat berbagi.
“Duka yang dialami saudara-saudara kita di Flores adalah duka kita bersama. Semoga para korban diberikan kekuatan, keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih diberikan penghiburan, dan seluruh masyarakat yang terdampak diberikan ketabahan dalam menghadapi situasi ini,” demikian pesan keprihatinan yang disampaikan Fr. William.
Di tengah situasi pascagempa, perhatian terhadap keselamatan masyarakat juga menjadi hal utama. Ribuan gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga memilih tetap berada di lokasi pengungsian atau tempat yang dianggap lebih aman.
BMKG menyebut aktivitas gempa susulan di Flores masih menunjukkan kondisi fluktuatif. Dari ribuan kejadian tersebut, puluhan gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan sebagian dirasakan masyarakat.
BMKG memperkirakan aktivitas susulan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk mulai menuju kondisi yang lebih stabil.
Kondisi tersebut membutuhkan kesabaran sekaligus kewaspadaan dari seluruh masyarakat.
Warga di wilayah terdampak diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak berasal dari sumber resmi dan tetap mengikuti perkembangan dari BMKG serta pemerintah daerah.
Selain bantuan material, dukungan psikologis juga sangat dibutuhkan. Anak-anak, orang lanjut usia, serta keluarga yang kehilangan tempat tinggal menghadapi tekanan besar setelah mengalami gempa utama dan rangkaian gempa susulan.
Dalam situasi tersebut, solidaritas lintas daerah dan lintas komunitas diharapkan terus bergerak. Bantuan berupa kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dukungan psikososial hingga pemulihan fasilitas pendidikan menjadi bagian penting dari proses pemulihan masyarakat Flores.
Bagi dunia pendidikan, bencana tersebut juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai kepedulian dan kemanusiaan kepada generasi muda.
Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, empati dan kepedulian terhadap sesama.
Sementara itu, pesan Paus Leo XIV mengenai solidaritas kepada korban gempa Flores memperkuat seruan agar masyarakat dunia tidak melupakan para korban ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang.
Pemulihan pascabencana membutuhkan waktu panjang.
Rumah-rumah yang rusak harus diperbaiki, fasilitas publik harus dipulihkan, aktivitas ekonomi masyarakat harus kembali berjalan, sementara trauma yang dialami para korban juga membutuhkan pendampingan.
Fr. William berharap masyarakat Flores dan seluruh wilayah NTT yang terdampak mampu melewati masa sulit tersebut dengan kekuatan dan kebersamaan.
Ia juga berharap doa dan solidaritas dari berbagai pihak dapat menjadi sumber penguatan bagi para korban yang saat ini masih menghadapi ketidakpastian akibat gempa susulan.
“Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan kepada seluruh saudara kita yang terdampak. Semoga semangat gotong royong dan solidaritas terus tumbuh sehingga masyarakat Flores dapat bangkit dan menata kembali kehidupan mereka,” ungkapnya.
Musibah gempa Flores pada akhirnya menjadi pengingat bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah. Dari Surabaya, kepedulian tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari dukungan moral bagi masyarakat Flores dan NTT agar tetap kuat menghadapi masa pemulihan.
Di tengah duka dan kerusakan yang ditimbulkan bencana, semangat untuk saling membantu menjadi kekuatan penting. Sebab, sebagaimana pesan para pemimpin Gereja dalam merespons tragedi tersebut, penderitaan akibat bencana dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kasih, kepedulian dan persaudaraan kemanusiaan.(Ali news)












