Beritanews 9.id || Tangerang – Kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) adalah kemampuan berpikir dan kemampuan memaknai sesuatu. Akibatnya, intelektual yang mengabaikan spiritual akan menunjukkan keberhasilan yang tidak bermakna — kosong — dari makna capaian yang telah diperoleh, sehingga terasa tidak begitu berarti, atau bahkan dirasakan sebagai sesuatu yang sia-sia saja. Jadi, intelektualitas itu seperti mesin pendorong, sedangkan spiritualitas itu pengendalinya — stir, rem dan kopling — serta kaca spion pembantu agak tidak terperosok, atau menabrak rambu yang sudah ada. Karena itu, etika dan moral berada dalam satu bingkai akhlak dalam perilaku manusia yang harus dipatuhi, mulai dari tata tertib yang bersifat tradisional, adat istiadat hingga budaya modern yang lebih menitik beratkan pada sopan santun dan tata kerama yang bersatu dalam moral hingga memiliki akhlak mulia sebagai manusia yang beradab.
Hasil dari kerja keras logika — intelektual yang terbaik pun — jika tidak memiliki nilai-nilai spiritual akan terkesan tidak bermakna apa-apa. Itulah sebabnya, kesuksesan, kekayaan, popularitas bahkan kekuasaan yang bisa digenggam tidak memberi kebahagian, karena esensi dan maknanya kosong, tak punya nilai apa- apa dalam pengertian spiritual. Sehingga, kawin cerai, kekayaan yang tidak dinikmati serta kekuasaan yang dianggap sia-sia karena tidak memberi manfaat kepada orang lain — apalagi untuk rakyat yang telah menitip dan mempercayakan amanah kepada seorang pejabat publik — akan membuat dan menimbulkan kekecewaan.
Kecerdasan intelektual tanpa memiliki nilai atau dimensi spiritual itu pasti kehilangan welas asih, rasa simpati dan empati bagi orang lain lantaran orientasi capaiannya bersifat material tiada nilai spiritual yang sakral sifatnya.
Akibatnya, krisis makna (burnout), keji dan kejam tiada rasa simpati dan empati, bahkan anggapan takhayul, gampang menyerah hingga rusaknya karena egosentrisitas serta keengganan mendengar dan menerima saran serta pendapat orang lain. Maka itu, di dalam laku spiritual tingkat kesabaran jadi bisa terus teruji, kejujuran jadi selalu menjadi pegangan, keikhlasan terus terasah sehingga mau menerima koreksi atau kesalahan jika terjadi dan harus dievaluasi seobyektif mungkin.
Karena itu pun sikap dan sifat rendah hati, tak hendak menampilkan diri secara berlebihan, dapat untuk senantiasa diukur, sebagai bagian dari upaya pengendalian diri untuk tidak sombong, tidak jumawa dan tidak merasa perlu lebih pintar dari orang lain.
Oleh karena itu, kecerdasan spiritual untuk menuntun kecerdasan intelektual setiap orang, baik sebagai pemimpin, penguasa, politisi, guru, dosen termasuk aktivis kaum pergerakan serta mahasiswa maupun kaum buruh perlu memiliki kecerdasan spiritual agar kesulitan dalam menghadapi tantangan dan hambatan hidup bisa diatasi dengan isi kepala yang dingin serta keyakinan bahwa semua masalah dalam dilalui, kendati tidak semua persoalan harus dapat diselesaikan dengan baik dan mulus seperti yang diharapkan.
Oleh karena itu, kecerdasan spiritual bagi seorang pejabat publik utamanya pemimpin bagi masyarakat dari yang tertinggi hingga yang terendah dalam jajaran pemerintahan idealnya memiliki kecerdasan spiritual agar tidak terkesan brutal serta memiliki kemampuan untuk dekat di hati rakyat. Sebab pembelajaran tertinggi dari laku spiritual adalah mengasah kemampuan serta keahlian terbaik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu mengapa tidak lebih mampu mendekatkan diri kepada rakyat ! Sebab hanya dengan begitu kepercayaan untuk mengemban amanah mulia yang diberikan okeh rakyat harus dijawab dengan segenap daya dan upaya untuk mewujudkan harapan, aspirasi serta keinginan rakyat untuk menikmati kesejahteraan, kenyamanan dan ketenteraman dalam pengertian lahir dan batin.
Tangerang, 7 Juni 2026












